Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literature. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Literature 10

DRAMA

Makalah DRAMA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Drama berasal dari bahasa yunani yang berarti perbuatan atau gerakan. Dalam perkembangan selanjutnya yang dimaksud drama adalah bentuk karya sastra yang berusaha yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak percakapan di atas panggung ataupun suatu karangan yang disusun dalam bentuk percakapan dan dapat dipentaskan. Oleh karena itu, dalam naskah drama selain percakapan pelaku berisi pula penjelasan mengenai gerak-gerik dan tindakan pelaku, peralatan yang dibutuhkan, penataan pentas atau panggung, music pengiring dan lain-lain.
Ciri khas dari drama adalah, naskahnya berbentuk percakapan atau dialog. Dalam menyusun dialog, pengarang harus memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari dan pantas untuk diucapkan di atas panggung.
Ragam bahasa dalam dialog tokoh-tokoh drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tulis, melaiknkan bahasa tutur. Pilihan kata (diksi) pun dipilih sesuai dengan dramatic action dari plat out. Diksi berhubungan dengan irama lakon, artinya panjang pendeknya kata-kata dalam dialog berpengaruh terhadap konflik yang dibawakan lakon.
Dialog dalam sebuah dramapun harus bersifat estetis atau memiliki keindahan bahasa. Namun nulai estetis tersebut tidak boleh mengganggu makna yang terkandung dalam naskah. Selain itu, dialog harus hidup. Artinya, dapat mewakili tokoh yang dibawakan. Untuk itu observasi di lapangan perlu dilakukan untuk membantu menulis dialog drama agar realistis.

B. Rumusan Makalah
Pembahasan menyangkut masalah drama dalam karya sastra sangatlah komplek. Untuk itu penulis hanya mengambil permasalahan dengan beberapa pokok pembahasan sebagai berikut:
1. Unsur-unsur drama dalam karya sastra.
2. Mementaskan naskah drama.

C. Tujuan
Dalam karya makalah ini penulis mempunyai tujuan di antaranya:
1. Untuk mengetahui apa sajakah ysng trmsduk unsur-unsur drama dalam karya sastra?
2. Untuk mengetahui bagaimana cara mementaskan naskah drama serta tahapan-tahapan pementasan drama?
 
BAB II
PEMBAHASAN

A. Unsur-Unsur Drama Dalam Karya Sastra
Drama dalam bentuk karya sastra yang melukiskan kehidupan manusia melalui lakuan atau dialog. Drama diproyeksikan di atas pentas sebagai seni pertunjukan. Hakikat drama adalah dialog dan konflik yang bersifat hakiki. Dialog adalah percakapan tokoh dengan tokoh lainnya. Adapun macam-macam drama adalah:
1. Tragedi adalah drama yang diwarnai kesedihan
2. Komedi adalah drama yang diwarnai kegembiraan
3. Tragedi-komedi adalah drama gabungan antara drama tragedi dan komedi
4. Pantonim adalah drama yang hanya menampilkan mimik dan gerak
Adapun unsur-unsur drama antara lain:
1. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah drama di dalam drama itu sendiri. Berikut adalah uraian unsur intrinsik drama:
a. Tokoh
Tokoh adalah orang yang berperan dalam suatu drama. Dalam drama tokoh diperankan oleh seorang actor. Berdasarkan perannya terhadap jalan cerita tokoh dibedakan menjadi tiga sebagai berikut:
1) Tokoh protagonis
Adalah tokoh yang membangun cerita, biasanya ada satu atau dua figure tokoh protagonist utamayang dibantu oleh tokoh-rokoh lainnya yang ikut terlibat sebagai pendukung cerita.
2) Tokoh antagonis
Adalah tokoh penentang cerita. Biasanya ada seorang tokoh utama yang menentang cerita beberapa figure pembantu yang ikut menentang cerita.


3) Tokoh tritagonis
Adalah tokoh pembantu, baikuntuk tokoh protagonist maupun untuk tokoh antagonis. Watak seorang tokoh dalam drama dapat dilihat dari ucapan-ucapan. Seorang tokoh dapat diketahui usia, latar belakang sosial, moral dan suasana kejiwaan.
b. Alur/Plot
Adalah rangkaian peristiwa dalam drama. Alur dalam drama dibagi dalam babak-babak dan adegan-adegan.
c. Amanat
Adalah pesan penulis naskah drama kepada pemirsa
d. Akting
Adalah perilaku pemain di panggung
e. Latar atau Setting
Adalah penjelasan tentang suasana tempat dan waktu yang ada dalam pertunjukan drama bila dipentaskan. Latar diwujudkan dalam:
1) Tata panggung
2) Tata sinar
3) Tata bunyi
f. Percakapan
Percakapan dalam drama dibedakan atas:
1) Prolog : percakapan awal sebagai pembuka pertunjukan drama
2) Monolog : percakapan sendiri
3) Dialog : percakapan dua orang atau lebih
4) Epilog : percakapan akhir sebagai penutup pertunjukan
g. Gerak atau Action
Gerak atau aksion dibedakan atas
1) Mimik : gerak raut muka
2) Pantomimik : gerak-gerik anggota tubuh
3) Blocking : posisi aktor di atas pentas
h. Tata Artistik
Adalah setting panggung

i. Konflik
Adalah masalah dalam drama
j. Tema
Adalah inti cerita
k. Perwatakan
Adalah watak tiap-tiap tokoh
2. Unsur Ekstinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur factor yang terjadi di luar drama, namun berkaitan dengan cerita drama tersebut. Adapun unsur yang dimaksud adalah:
a. Sosial budaya
b. Politik
c. Hankam
d. Agama
e. Ideologi
B. Mementaskan Drama
1. Penyampaian dialog naskah drama
Drama adalah karya sastra yang berbentuk dialog. Dialog tersebut tidak jauh beda dengan kehidupan sehari-hari. Perbedaan dalam drama dialog sudah diatur sebelumnya oleh penulisnya. Namun demikian, penyampaian dialog dituntut sewajar dan sealamiah mungkin. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyampaian dialog naskah drama adalah sebagai berikut:
a. Penggunaan bahasa yang meliputi pelafalan dan intonasi harus relevan. Pemeran tokoh dituntut memerankan tokoh secara total sesuai dengan karakter tokoh. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku (daerah), usia, dan status sosial tokoh yang diperankan.
b. Ketepatan ekspresi tubuh dan mimik muka dengan dialog. Misalnya ekspresi dan mimik muka merah, sedih, hembira dan lain-lain.
c. Menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, serta dapat berimprovisasi di luar naskah.
d. Tekanan cepat lambatnya pengucapan suku kata dalam kalimat.
e. Tekanan tinggi rendahnya pengucapan suku kata dalam kalimat.
f. Pengucapan pengembangan, dapat dicapai dengan menaikkan atau mengurangi volume suara, tinggi nada dan kecepatan tempo suara.
g. Tekanan keras lembutnya pengucapan (tekanan dinamik).
Selain hal-hal di atas ada hal lain yang tidak kalah penting yaitu menjiwai watak tokoh. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjiwai watak tokoh adalah sebagai berikut:
a. Membaca naskah drame dengan seksama, khususnya watak (karakter) tokoh yang akan diperankan sevara berulang-ulang.
b. Memahami ciri-ciri tokoh yang hendak diperankan meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Ciri biologis, yaitu jenis kelamin, umur, tampilan fisik dan lain-lain.
2) Ciri sosiologis, yaitu mencakup pekerjaan, kelas sosial, latar belakang, status sosial masyarakat dan sebagainya
3) Ciri psikologis yang meliputi sifat-sifat, pandangan hidup, motivasi, keadaan betin dan lain-lain.
c. Memahami tema dan makna naskah drama dan aspek-aspek lain yang secara keseluruhan memerlukan pemahaman hubungan antar peran.
d. Berlatih berulang-ulang, menghayati emosi dan perkembangan psikologis tokoh yang diperankan secara berulang-ulang untuk mencapai kesesuaian antara karakter tokoh yang diperankan dengan akting dan vokal yang ditampilkan.
2. Tahapan pementasa drama
Dalam memerankan tokoh, diperlukan penghayatan isi dan jiwa cerita drama. Selain itu perlu memrhatikan petunjuk dalam naskah drama.hal ini dilakukan agar penggambaran karakter tokoh dan konflik yang timbul di dalamnya dapat dilihat. Untuk itulah, seorang pemain drama perlu memiliki kemampuan menirukan tingkah laku tokoh yang diperankan dengan wajar dan apa adanya. Untuk menirukan tokoh tentu saja melalui pengamatan tokoh dengan cermat, baik itu cara berpakaian, cara berbicara dan kebiasaan-kebiasaan lain dari tokoh yang diperankan.
Memainkan sebuah drama memerlukan pemahaman dan penghayatan drama dengan benar. Untuk itu diperhatikan petunjuk pemanggungan dan kalimat (dialog) tokoh cerita. Kalimat yang diucapkan harus sesuai dengan suasana yang dimaksud, begitu juga gerak yang dilakukannya.
Membaca drama memerlukan penghayatan dan teknik vocal yang baik. Pembaca drama tidak saja perlu memahami isi naskah, tetapi juga harus menghayati dan mampu mendialogkan sesuai karakter tokoh yang dimainkan. Dalam memerankan drama diperlukan sebuah proses kreatif dari semua pendukung. Proses dalam pementasan drama melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Menyusun naskah drama atau memilih naskah drama yang sudah ada.
b. Membedah secara bersama-sama isi naskah yang akan dipentaskan. Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan.
c. Reading, yaitu pemain membaca keseluruhan naskah sehingga mengenal masing-masing peran.
d. Casting, yaitu memilih peran yang sesuai dengan kemampuan akting pemain.
e. Mendalami peran yang dimainkan dengan pengamatan di lapangan.
f. Blocking, yaitu latihan secara lengkap mulai dari dialog sampai pengaturan pentas.
g. Gladiresik, yaitu latihan terakhir sebelum pentas.
h. Pementasan, pemain siap dengan kostum dan dekorasi panggung yang sudah lengkap.
 
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Drama merupakan karya sastra yang berbentuk dialog (percakapan) yang dipentaskan di atas panggung. Bayangan pentas di atas panggung berupa tiruan (mimesis) dari kehidupan sehari-hari. Dan pembicaraan yang ditulis pengarang naskah drama adalah pembicaraan yang diucapkan dan sesuai di atas panggung. Drama memiliki dua unsur. Yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah drama di dalam drama itu sendiri. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada di luar drama namun berkaitan dengan cerita drama tersebut.

B. Saran
Drama yang termuat dalam karya sastra Indonesia ini memuat banyak unsur maupun tehap pementasan lainnya. untuk itu siswa maupun yang lainnya harus mempelajari masalah drama dalam pelajaran ini, supaya mereka mampu menganalisa maupun mengetahui bentuk-bentuk drama dan lainnya yang berkaitan dengan drama.

 
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Sri. 2006. Kreative (Bahasa Indonesia XI B). Semarang: Viva Pakarindo
Ambarwati, Sri. 2006. Kreative (Bahasa Indonesia XII A). Semarang: Viva Pakarindo
Read More ->>

Literature 9

MENGENAL TEORI SASTRA

MENGENAL TEORI SASTRA

I. Sastra dan Studi Sastra

Sebelum berbicara jauh tentang Teori Sastra, ada baiknya kita kembali pada pertanyaan mendasar: "Apakah sastra itu?" atau "What is literature?"

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "sastra" berarti:
1. bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari);
2. kesusastraan;
3. kitab sudi Hindu; kitab ilmu pengetahuan;
4. kitab; pusaka; primbon (berisi ramalan, hitungan, dsb);
5. tulisan; huruf.
Sementara dalam Kamus Inggris Indonesia yang disusun oleh Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, kata "literature" berarti:
1. kesusastraan,
2. kepustakaan, daftar bacaan.

Secara etimologis, kata "sastra" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran. Sementara kata "literature" dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani "litteratura" yang berasal dari kata "littera" yang memiliki arti bagian yang terkecil dari penulisan alfabet.

Berdasarkan ruang lingkupnya, pertama, sastra (literature) dapat dipahami sebagai hasil dari kegiatan kreatif seorang sastrawan. Sebagai hasil kegiatan kreatif, sastra biasa dikenal dengan nama karya sastra. Karya sastra merupakan produk dari tindak penciptaan atau kerja kreasi seorang sastrawan yang bertanggungjawab pada keindahan atau estetika. Sebagai produk yang bertanggungjawab pada keindahan atau estetika, karya sastra merupakan karya seni.

Selain sebagai hasil dari kegiatan kreatif, berdasarkan pada ruang lingkupnya, sastra juga dapat dipahami sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan. Sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan, sastra merupakan satu studi yang memiliki metode-metode yang absah dan ilmiah. Ia dikenal dengan nama studi sastra. Secara umum, studi sastra dapat dipahami sebagai sebuah telaah sistematik mengenai sastra dan mengenai komunikasi sastra yang pada prinsipnya menghiraukan batas-batas antarbangsa dan antarkebudayaan.

Sebagai sebuah studi, sastra bertanggungjawab pada logika ilmiah. Logika ilmiah adalah logika yang dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Ia merupakan satu bentuk logika yang berlandaskan pengetahuan yang jelas dari satu objek yang dicapai menurut cara pandang tertentu atau sudut pandang tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh satu sistem yang relevan.

Seperti ilmu pengetahuan pada umumnya, sebagai sebuah cabangnya, studi sastra memiliki objek yang menjadi lapangan penyelidikannya. Objek dari studi sastra atau ilmu sastra adalah karya sastra. Bagi studi sastra, karya sastra dikenal dengan teks sastra atau teks saja. Teks sastra atau teks saja adalah realisasi sistem sastra. Ia merupakan aktualisasi kompetensi sastra yang memiliki ciri khas keseluruhan yang berhingga, yang tertutup, yang batasnya (awal dan akhirnya) diberikan dengan kebulatan makna.

Dalam studi sastra, teks-teks tersebut dapat digolongkan menurut jenisnya. Penggolongan teks-teks sastra menurut jenisnya ini biasa dikenal dengan nama genre sastra. Secara sederhana, genre sastra dapat dibagi menjadi teks-teks naratif, teks-teks drama, dan teks-teks puisi. Teks-teks naratif adalah semua teks yang tidak bersifat dialog, dan yang isinya merupakan suatu kisah sejarah, sebuah deretan peristiwa, yang menghadirkan cerita, seperti novel, roman, cerita pendek, dsb. Teks-teks drama adalah semua teks yang bersifat dialog dan yang isinya membentang alur. Dan teks-teks puisi adalah teks-teks monolog yang sisinya tidak pertama-tama merupakan alur, dan dapat memiliki ciri penyajian tipografik tertentu.

Untuk melakukan pendekatan terhadap teks, studi sastra memliki cara pandang tertentu atau sudut pandang tertentu. Cara pandang atau sudut pandang tertentu itu dapat berupa intrinsik (apabila sastra dipandang sebagai sebuah dunia yang otonom, yang tidak terikat oleh dunia lain di luar sastra), ekstrinsik (apabila sastra dipandang sebagai sebuah dunia yang tidak otonom dan senantiasa terikat dengan dunia di luar sastra), ataupun intrinsik-ekstrinsik (apabila sastra dipandang sebagai sebuah dunia yang otonom tapi juga terikat dengan hal-hal di luar sastra).

Dalam melakukan pendekatannya, baik apakah secara intrinsik, ekstrinsik, maupun intrinsik-ekstrinsik, studi sastra dapat berpijak pada tiga hal, yakni teori, kritik dan sejarah. Dalam studi sastra, tiga hal tersebut sekaligus merupakan cabang dari studi sastra yang biasa dikenal dengan nama teori sastra (literary theory/ theory of literature/ critical theory), kritik sastra (literary criticism) dan sejarah sastra (history of literature).

Masing-masing cabang tersebut memiliki ciri khasnya sendiri-sendiri dalam melakukan pendekatan terhadap teks sastra. Meskipun demikian, tak jarang, batas-batas tersebut menjadi kabur. Kekaburan ini terjadi karena batas-batas yang dimiliki masing-masing cabang dari ilmu sastra tersebut bukanlah batasan yang kaku dan tegas. Tak jarang, tatkala seorang kritikus sastra melakukan studi kritiknya atas satu teks sastra, dia membutuhkan teori sastra sebagai alat penilaiannya, begitu juga tatkala seorang sejarahwan sastra dalam melakukan kerja studinya, dia membutuhkan teori sastra dan kritik sastra agar penelitiannya secara diakronis mengenai sejumlah karya sastra dapat dilakukan. Karena teori sastra maupun kritik sastra, bagi penelitian sejarah sastra, merupakan metode sekaligus data yang sangat berguna bagi studi tersebut.

II. Pengertian Teori Sastra

Tadi telah disebutkan, bahwa teori sastra (literary theory/ theory of literature/ critical theory) merupakan cabang dari studi sastra. Secara sederhana, teori sastra dapat dipahami sebagai cabang studi sastra yang secara teoritis mendekati gejala sastra pada umumnya. Dalam teori sastra, teks sastra merupakan objek studi yang harus didekati, dipelajari, diteliti, atau bahkan dipahami berdasarkan teori-teori sastra yang ada. Dalam teori sastra, penggunaan teori terhadap teks sastra adalah yang utama.

Teori sastra yang dikenal saat ini memiliki sejarah yang panjang. Ia ada semenjak zaman Yunani Kuno. Pada zaman tersebut, keberadaan teori sastra dapat dilihat pada gagasan-gasan Plato tentang seni mimetik, dan pikiran-pikiran Aritoteles yang tertuang dalam buku Poetics. Tetapi, teori sastra benar-benar menemukan momentumnya tatkala sastra memasuki zaman modern yang dimulai pada kisaran tahun 1890an.

Di zaman modern, sastra tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan misterius yang tidak memiliki satu metode dan sistem tertentu. Dalam dunia modern, sastra, meskipun masih diandaikan sebagai sesuatu yang khas dan bersifat indiviual, juga memiliki nilai-nilai atau kaidah-kaidah atau konvensi-konvensi yang bersifat umum dan dapat ditelaah ataupun didekati dan dipahami berdasarkan teori-teori yang ada. Paradigma semacam inilah yang membuat perkembangan teori sastra di zaman modern menemukan momentumnya.

Perkembangan teori sastra yang menemukan momentumnya di zaman modern melahirkan banyak teori-teori sastra, baik apakah itu berupa cara pandang intrisik seperti kritik baru (new criticism) atau formalisme (formalism), atau cara pandang ekstrinsik, seperti resepsi, sosiologi sastra, dsb, ataupun intrinsik-ekstrinsik seperti strukturalisme-genetik (genetic structuralism).

Sastra senantiasa berada di antara tradisi dan inovasi. Keberadaan sastra yang senatiasa berayun menuju dua hal tersebut, membuat sastra, di satu sisi, mengukuhkan tradisi, tapi di sisi lain, melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap tradisi yang ada. Penyimpangan-penyimpangan ini membuat publik sastra kerap kali tersesat dalam melakukan pemahamannya terhadap karya sastra. Di bawah kondisi ini, teori sastra memiliki fungsi dan kedudukan yang penting karena ia dapat menjadi jembatan antara publik sastra dan karya sastra. Artinya, setiap usaha yang dilakukan oleh teori sastra adalah bertujuan mendekatkan publik sastra dengan karya sastra.

Selain itu, teori sastra juga memiliki fungsi dan kedudukan yang penting dalam studi sastra. Sebagai salah satu cabang dari ilmu pengetahuan, keberadaan studi sastra ditentukan juga oleh keberadaan teori-teori di dalamnya. Jadi, semakin kukuh dan berkembangan teori sastra berarti semakin kukuh dan diakuinya studi sastra sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang memiliki nilai dan kaidah keilmuan.
Read More ->>

Literature 8

Identify Slang


IDENTIFY SLANG


Chapter I
Introduction
For hundred of year, English has been continuously changing. Words that were unacceptable 300 years ago are now common place. English has always had a trademark of being a comfortable language, the language of the common people (MacNeil 143). Change in the grammar and diction of a language is natural, and English is always with changes. Among them are the use of Slang, clipped word endings and new dialects.
The role of Slang in the language highlight how language changes over time, what is acceptable in different contexts changes, it must be remembered that it is the community of language-users, not a text book, that determines what is acceptable, frequently aspect of language may be in a state of flux and a number of alternatives are acceptable.
Slang develops from the attempt to find fresh and vigorous, colorful, pungent, and humorous expression, and generally either passes into disuse or comes to have a more formal status. Foreign words are common resource for the development of Slang, as regional variation of standard words.

Chapter II
Discussion
2.1. History of Slang
During the middle ages certain writers such as Chaucer, William Caxton and William of Malmesbury represented the regional differences in the pronunciation and dialects and the different pronunciation represented the first meaning for the term “Slang”
However, our present-day meaning for Slang did not begin forming until the 16 th or 17 th century, the English Criminal Cant Was a new kind of speech used by Criminals and Cheats, meaning it developed mostly in saloons and gambling houses. The English Criminal Cant was at first believed to be foreign, meaning scholars that it originated in Romania or had relationship to French. The English Criminal Cant was slow developing.
In fact, out of the four million people who spoke English, only about ten thousand the English Criminal Cant. By the end of 16th century this new style of speaking was considered to be a language “without reason and order”
During 18th century schoolmasters taught pupils to believe that the English Criminal Cant (which by this time had developed in to Slang) was not the correct usage of English and Slang was considered to be taboo.
However, Slang was beginning to be presented in popular plays. The first appearance of the Slang was in play by Richard Brume’s and later appeared in poem and song by Copland. By the 1700’s the Culture differences in America had begun to influence the English speaking population, and Slang began to expand.
Almost all of the Slang words during thirds time were anatomical and well known all through Britain and in America due to the British Colonist. Furthermore, certain events happened in the 18th century that helped the development of Slang such as, Westward expansion, the civil war and the abolitionist movement.
This was a turning point for Slang it was starting escape the harsh criticism of being associated with Criminals or foreigners it was not until the early 1920’s that Slang gained the interest of popular writers. It was during the post-world war I era that society gained new attitudes about Slang, there was now a demand for entertainment media, and Slangy fiction.
Today, modern American Slang has been shaped and reshaped by the different cultures and the different emergences of technology, which has left our society with varieties of Slang from extreme like street/ Drug Slang to African-American Slang.
2.2. Definition of Slang
1. Webster’s revised unabridged dictionary defines the term Slang as: n
1. Informal language consisting of word and expressions that are not considered appropriate for formal occasions; often vulgar; 2. Characteristic language of a particular group (as among thieves), Slang is believed to have originated from term used by a certain exclusive group in society.
2. The your dictionary web site
Slang as” highly informal speech that is outside conventional or standard usage and consist both of coined words and phrases and of new of extended meaning attached to established terms: Slang develop from the attempt to fine fresh and vigorous, colorful, pungent, or humorous expression, and generally either passes into disuse or comes to have amore formal status”
3. Microsoft Encarta 97 Encyclopedia
Slang can be described as informal, nonstandard words or phrases (lexical innovation) which tend to originate in subcultures within a society.
4. Dictionary Com
“Slang occurs chiefly in a casual and playful speech, made up typically of short-lived Coinages and figures of speech that are deliberates used in place of standard term for added raciness, humor, irreverence, or other effect.”
5. The historical dictionary of American Slang
“Slang is lexical innovation within a particular culture context.”
2.3.The reason why people use Slang
Because most people are individuals who desire uniqueness, it stands to reason that Slang has been in existence for as long as language has been in existence.
“According to the British lexicographer, Eric partridge (1894-1979), people use Slang for any of at least 15 reasons.
1. In sheer high spirits, by the young in heart as well as by the Young in years: just for the fun of the thing; in playfulness or waggishness”
[I think, Slang can exist because the young makes a joke with their friends and accidentally they say something that fun or playful and then that word continually from one to the other]
2. As an exercise either in wit and ingenuity or in humorous.(the motive behind this is usually self-display or snobbishness, emulation or responsiveness, delight in virtuosity)
[in my opinion about this statement, in comedy film, comedy drama sometime the actor or actress creates or say new words to make his/her performance is very good or humor, but new word that they created according to their cleverness so that they can show their performance perfectly and the audiences will evaluate it]
3. To be different–to be novel
[I very agree with this statement because we won’t equivalent with people generally, we have different idea for express our selves]
4. To be picturesque (either positively or–as in the wish to avoid insipidity–negatively)
[I think, because sometimes Slang is used for expression which have relation with Drug, sex, crime so with Slang, everything will manage and reduce the negative]
5. To be unmistakably arresting, even startling.
[In my opinion, indeed Slang is very interesting even we can imagine before that word and its meaning].
6. To escape from clichés or to be brief and concise. (Actuated by impatience with existing terms)
[I think, language always changes over the time, new word make fresh and not boring. The word which concise I think it usual matter in the languages and it make more interesting]
7. To enrich the language. (This deliberateness is rare save among the well-educated, cockneys forming the most notable exception; it is literary rather than spontaneous).
[I think, with study other language we can understand that language and add our varieties of language according to the philosopher Wittgenstein in 1921, Said that “The limits of my language are the limits of my world” so, it’s better to expand our language]
8. To lend on air solidity, concreteness, to the abstract: of earthiness to the idealistic, of immediacy and appositeness to the remote, (in the cultured the effort is usually premeditated, while in the uncultured it is almost always unconscious when it is not rather subconscious)
[I think, if the function of Slang can change from the concreteness to the function of Slang closely with an idiom]
9 a. To lesson the Slang of, or on the other hand to give additional point to, a refusal, a rejection, a recantation.
[In my opinion, Slang has sharpen word for those who that fell it or the word which content of phrases or words for some goal e.g. refusal]
9 b.To reduce, perhaps also to disperse, the solemnity, the pomposity, the excessive seriousness of a conversation (or of piece of writing)
[I think, the goal of Slang avoid boring which just some one who use permanent or standard language, to be intimate between speaker or in writing we can add Slang for the flavor of writing e.g. in poetry because Shakespeare do it too]
9 c.To soften the tragedy, to lighten or to ‘prettify’ the inevitability of death or madness, or to mask the ugliness or the pity of profound turpitude(e.g. treachery, ingratitude) and or thus to enable the speaker or his auditor or both to endure, to ‘carry on’, [ I think Slang is very is very completely enough, for just for fun to the appreciate other person, it’s not always vulgar]
10. To speak or to write down to an inferior, or to amuse a superior public or merely to be on a colloquial level with either one’s audience or one subject matter.
[I think if we know Slang we use Slang e.g. for Black Children because Back Children only speak the way they speak an we can show that Slang is very interesting to the conservatives because conservatives rebel the Slang]
11. For use of social intercourse, (not to be confused or merged with the preceding)
[For this thing we can be invented where we come to the one of area, and they are very welcome to us because we are part of them]
12. To induce either friendliness or intimacy of a deep or a durable kind, (same remark)
[I think Slang can useful for those who use it, and add our relationship a among friends and other]
13. To show that one belongs to a certain school, trade, or profession, artistic or intellectual set or social class: in brief, to be ‘in the swim’ or to establish contact.
[I think Slang use by specific people, different people use different term for their community although there are popular Slang that can use together and with Slang we know the development of language use by people in the world]
14. Hence to show or to prove that some one is not ‘in the swim’
[I very agree with this statement, indeed, Slang can useful for those who always follow the dynamic of new language and always up to date in new style of language]
15. To be street–not understood by hose around one.(children, students, lovers, members of political secret societies, and criminal in or to prison, innocent person in prison, are the chief exponents)
[I think this has function to avoid what we say can be known by some one , so our secret just for our selves or our relatives, but, it can be danger for some one that want to do the criminal action]
2.4. Who use Slang
Since a number of Slang terms make reference to sex, violence, drugs, crime, mafia members, thieves, liars, and cheats have used Slang to their advantage. They also share a commonality within taste of music, fashion, and other forms of entertainment. The use of Slang is often seen by many people as an indicator of the speaker’s lower status. Slang used by particular ethnic groups is also frequently looked down upon, although it should be noted that use of Slang in very speech bears no relationship to the speaker’s intelligence.
Slang should be avoided in most types writing, especially academic research paper and essay, screenwriters and novelists some time use certain expression to add a touch of their characters personality to specific bits of dialogue, but this tactic can backfire if the Slang is obscure and thus unfamiliar to the reader.
Some example of Slang that people use in their group or subgroups and for many advantages and for their reason and just for the fun:
1. in sex
Queen ——— a homosexual man (Orig Us)
Hooker ——— a male prostitute or some one who is behaving like a prostitute (Orig us)
2. In drugs or drugs-dealer
- Grass or pot ——— a kind of drugs exactly ‘Cannabis Sativa’
- Disco-biscuite ——— ecstasy tablets (Orig British)
3. In Fashion
- Bathers ——— Swimming Costume (Orig Aust)
- Daks ——— Trousers (Orig Aust)
- Tony Blairs or Tonys ——— Flared Trousers (Orig British)
4. In crime
- Trashed ——— to be very drunk or to completely destroy someone’s property
- A police officer may hear of ”a fellow Johnson Brother knocking over a fat cat”, but if he does not know what any of this means, what crime is he supposed to be on the lookout for ? This type of evasive action is a very effective way of masking wrong doing.

Chapter III
Conclusion
Slang can be a very useful resource for any one interested in learning more about how language continuous. Actually Slang not really new, Slang appears during the middle Ages .Then developed in the 16th century with known as the English Criminal Cant. The English Criminal Cant was anew kind of speech used by Criminals and cheats, certain event happened in the 18th century that helped the development of Slang such as, west ward expansion, the civil war and the abolitionist movement and then during slave and slavery era. Until in modern American Slang has been shaped and reshaped by the different cultures and the emergences of technology. Slang can be described as informal, nonstandard words or phrases (lexical innovations) which tend to originate in subcultures within a society. People use Slang in many reason, for example just for the fun or thing to be different, to show that some belong to certain groups, and follow the trend etc, but Slang bears no relationship to the speaker’s intelligence Slang identically with crime, violence, drugs and mafia members has used Slang to their advantage.
Whatever the reason, this paper doesn’t try influence the reader to use Slang in wrong way, this paper excepted as add our knowledge and insight. May this paper useful for us and hope the better revised for the next paper which has equivalent title.

References
Mega essays.com
Pollock, John & Emmit, Marie. Language and learning: an introduction for teaching, OxfordUniversity presses Australia, South Melbourne, Australia, 1997.
Your dictionary .Com
Sumber :
http://bulejugamanusia.blogspot.com/2009/09/Australia-Slang-101.html.
http://www.koalanet.com.au/australia-Slang.html
http://www.uncp.edu/home/canada/work/allam/1914-/language/Slang.html.

Read More ->>

Total Pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers